INKONTINENSIA ALVI PADA LANSIA PDF

INKONTINENSIA ALVI PADA LANSIA PDF

Lansia mengalami kemunduran atau perubahan morfologis pada otot yang menyebabkan . Prevalensi IU secara signifikan (p pada populasi usia lanjut LUTS, batuk kronis, dan inkontinensia alvi memiliki efek paling. Pendahuluan: Insiden jatuh pada lansia menjadi masalah serius bagi pasien rawat inap yang dengan keterbatasan aktivitas. . Gangguan eliminasi ( inkontinensia, nokturia, frekuensi eliminasi) .. eliminasi alvi sebagai dampak pemberian.

Author: Netaur Aradal
Country: India
Language: English (Spanish)
Genre: Video
Published (Last): 28 July 2011
Pages: 433
PDF File Size: 11.91 Mb
ePub File Size: 14.17 Mb
ISBN: 644-5-32082-296-8
Downloads: 43121
Price: Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader: Kazrat

Inkontinensia Alvi patofisiologi patofisiologi inkontinesia alvi. Inkontinensia Urin Inkontinensia Urin makalahFull description. Analisa Data Inkontinensia Urine inkontinensiaFull description. Konstipasi Dan Inkontinensia www. Askep Isk Askep IskDeskripsi lengkap.

Inkontinensia urin – [PPTX Powerpoint]

Sumitro Adi PutraS. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun dari semua pihak akan sangat membantu demi perbaikan dan penyempurnaan makalah ini.

Penulis juga sangat berharap semoga makalah ini bermanfaat dan dapat digunakan sebagai suatu acuan untuk pembuatan makalah berikutnya yang lebih baik. Latar Belakang Manusia mempunyai kebutuhan tertentu yang harus dipenuhi secara memuaskan melalui proses homeostasis, baik fisiologis maupun psikologis.

Adapun kebutuhan merupakan suatu hal yang sangat penting, bermanfaat, atau diperlukan untuk menjaga homeostasis dan kehidupan itu sendiri. Banyak ahli filsafat, psikologis, dan fisiologis menguraikan kebutuhan manusia dan membahasnya dari berbagai segi. Orang pertama yang menguraikan kebutuhan manusia adalah Aristoteles.

Sekitar tahunAbraham Maslow seorang psikolog dari Amerika mengembangkan teori tentang kebutuhan dasar manusia yang lebih dikenal dengan istilah Hierarki Kebutuhan Dasar Manusia Maslow Wolf, Lu Verne,dkk Suatu hal yang sangat diperlukan tubuh dalam kaitannya dengan proses pertumbuhan dan perkembangan adalah nutrisi yang adekuat. Pemenuhan kebutuhan nutrisi akan sangat membantu seseorang untuk mempertahankan kondisi tubuh dalam mencegah terjadinya suatu penyakit, mempertahankan suhu tubuh dalam kondisi yang normal serta menghindari proses infeksi.

Eliminasi fecal atau defekasi merupakan proses pembuangan metabolisme tubuh yang tidak terpakai. Eliminasi yang teratur dari sisasisa produksi usus penting untuk fungsi tubuh normal. Perubahan pada defekasi dapat menyebabkan masalah pada gastrointestinal dan bagian tubuh lain, karena sisa-sisa produk usus adalah racun. Pola defekasi bersifat individual, bervariasi dari beberapa kali sehari sampai beberapa kali seminggu.

Jumlah feses yang dikeluarkan pun berfariasi jumlahnya tiap individu. Feses normal berwarna coklat karena adanya sterkobilin dan uriobilin yang berasal dari bilirubin.

Warna feses dapat dipengaruhi oleh kerja bakteri Escherecia coli. Flatus yang dikelurkan orang dewasa selama 24 jam yaitu liter flatus dalam usus besar.

Kerja mikroorganisme 1 mempengaruhi bau feses. Fungsi usus tergantung pada keseimbangan beberapa faktor, pola eliminasi dan kebiasaan Berman, et. Inkontinensia alvi merupakan salah satu masalah kesehatan yang cukup serius pada pasien geriatri.

Angka kejadian inkontinensia alvi ini lebih sedikit dibandingkan pada kejadian inkontinensia urin. Inkontinensia alvi merupakan hal yang sangat mengganggu bagi penderitannya, sehingga harus diupayakan mencari penyebabnya dan penatalaksanaannya dengan baik.

Seiring dengan meningkatnya angka kejadian inkontinensia urin, maka tidak menutup kemungkinan akan terjadi pula peningkatan angka kejadian inkontinensia alvi.

Untuk itu diperlukan penanganan yang sesuai baik untuk inkontinensia urin inkontinensiw inkontinensia alvi, agar tidak slvi masalah yang lebih sulit lagi sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup pasien. Berikut ini akan dibahas mengenai inkontinensia alvi dan penanganannya. Apa pengertian inkontinensia alvi? Bagaimana etiologi inkontinensia alvi? Bagaimana gejala inkontinensia alvi? Bagiamana patofisiologi inkontinensia alvi? Bagiamana faktor resiko inkontinensia alvi? Bagaimana pemeriksaan penunjang inkontinensia alvi?

Bagaimana penatalaksanaan inkontinensia alvi? Bagaimana asuhan keperawatan pasien dengan inkontinensia alvi? Tujuan Umum Untuk mengetahui dan memahami lebih dalam lagi yang dimaksud dengan inkontinensia alvi dan untuk mendapatkan gambaran umum secara teoritis konsep dasar, ijkontinensia keperawatan pada klien dengan inkontinensia alvi. Untuk mengetahui pengertian inkontinensia alvi. Untuk mengetahui etiologi inkontinensia alvi. Untuk mengetahui gejala inkontinensia alvi. Untuk mengetahui patofisiologi inkontinensia alvi.

  AUSZAHLUNGSANWEISUNG DIBA PDF

Untuk mengetahui faktor resiko inkontinensia alvi. Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang inkontinensia alvi.

Askep Inkontinensia Alvi – PDF Free Download

Untuk mengetahui penatalaksanaan inkontinensia alvi. Anorektal adalah akhir kaudal dari traktus gastrointestinal, yang bertanggung jawab pada kontinensia fekal dan proses defekasi. Departement of Health and Human Services dan Junizafinkontinensia fekal adalah ketidakmampuan dalam menahan keinginan buang air besar sampai mencapai toilet, juga diartikan sebagai ketidakmampuan menahan gas, feces cair, maupun feces padat. Inkontinensia fecal lebih jarang ditemukan dibandingkan inkontinensia urin.

Defekasi, seperti halnya berkemih, adalah proses fisiologik yang melibatkan koordinasi sistem saraf, respon refleks, kontraksi otot polos, kesadaran cukup serta kemampuan mencapai tempat buang air besar. Perubahan-perubahan akibat proses menua dapat menyebabkan terjadinya inkontinensia, tetapi inkontinensia fecal bukan merupakan sesuatu yang normal pada lanjut usia. Inkontinensia tinja juga disebut inkontinensia usus.

Inkontinensia tinja berkisar dari terjadi sesekali saat duduk hingga sampai benar-benar kehilangan kendali. Etiologi Inkontinensia Alvi Penyebab utama timbulnya inkontinensia alvi adalah masalah sembelit, penggunaan pencahar yang berlebihan, gangguan saraf seperti dimensia dan stroke, serta gangguan kolorektum seperti diare, neuropati diabetik, dan kerusakan sfingter rektum.

Penyebab inkontinensia alvi dapat dibagi menjadi empat kelompok Brock Lehurst dkk, ; Kane dkk, Inkontinensia alvi akibat konstipasi a Obstipasi yang berlangsung lama dapat mengakibatkan sumbatan atau impaksi dari massa feses yang keras skibala.

Massa feses yang tidak dapat keluar ini akan menyumbat lumen bawah dari anus dan menyebabkan perubahan dari besarnya sudut ano-rektal. Kemampuan sensor menumpul dan tidak dapat membedakan antara flatus, cairan atau feses. Akibatnya feses yang cair akan merembes keluar broklehurst dkk, Inkontinensia alvi simtomatik, yang berkaitan dengan penyakit pada usus besar.

Inkontinensia alvi simtomatik dapat merupakan penampilan klinis dari macam — macam kelainan patologik yang dapat menyebabkan diare. Keadaan ini mungkin dipermudah dengan adanya perubahan berkaitan dengan bertambahnya usia dari proses kontrol yang rumit pada fungsi sfingter terhadap feses yang cair, dan gangguan pada saluran anus bagian atas dalam membedakan flatus dan feses yang cair broklehurst dkk, Penyebab yang paling umum dari diare pada lanjut usia adalah obat — obatan, antara lain yang mengandung unsur besi, atau memang akibat pencahar broklehurst dkk, Robert — Thomson 3.

Inkontinensia alvi akibat gangguan kontrol persyarafan dari proses defekasi inkontinensia neurogenik. Proses normal dari defekasi melalui reflek gastro-kolon. Distensi rektum akan diikuti relaksasi sfingter interna. Dan seperti halnya kandung kemih, tidak terjadi kontraksi intrinsik dari rektum pada orang dewasa normal, karena ada inbisi atau hambatan dari pusat di korteks serebri broklehurst dkk, Inkontinensia alvi karena hilangnya reflek anal Inkontinensia alvi ini terjadi akibat karena hilangnya refleks anal, disertai kelemahan otot-otot seran lintang.

Parks, Henry dan Swash dalam penelitiannya seperti dikutip oleh broklehurst dkk,menunjukkan berkurangnya unit — unit yang berfungsi motorik pada otot — otot daerah sfingter dan pubo-rektal, keadaan ini menyebabkan hilangnya reflek anal, berkurangnya sensasi pada anus disertai menurunnya tonus anus.

Hal ini dapat berakibat inkontinensia alvi pada peningkatan tekanan intra abdomen dan prolaps dari rektum.

Askep Inkontinensia Alvi

Pengelolaan inkontinensia ini sebaiknya diserahkan pada ahli progtologi untuk pengobatannya broklehurst dkk, Gejala Inkontinensia Alvi Gejala bisa berupa merembesnya feses cair yang disertai dengan buang gas dari dubur atau penderita sama sekali tidak dapat mengendalikan keluarnya feses.

Tapi itu tidak berlaku bagi orang yang mengalami inkontinensia tinja,kejadian BAB di celana itu berulang-ulang dan kronis. Secara klinis, inkontinensia alvi dapat tampak sebagai feses yang cair atau belum berbentuk dan feses keluar yang sudah berbentuk, sekali atau dua kali sehari dipakaian atau tempat tidur.

  AUTOMOBILE TECHNOLOGY BY NK GIRI PDF

Perbedaan penampilan klinis ini dapat menunjukkan penyebab yang berbeda-beda, antara lain inkontinensia alvi akibat konstipasi sulit buang air besarsimtomatik berkaitan dengan penyakit usus besarakibat gangguan saraf pada proses defekasi neurogenikdan akibat hilangnya refleks pada anus.

Patofisiologi Integritas neuromuskular dari rektum, anus, dan otot-otot dasar panggul inkohtinensia mempertahankan kontinensia fekal normal.

Rektum adalah tabung muskuler terdiri dari lapisan otot longitudinal kontinyu yang menyatu dengan otot sirkuler yang mendasarinya.

Komposisi otot yang unik tersebut memungkinkan rektum berperan baik sebagai reservoir bagi feces maupun sebagai pompa untuk mengosongkan feces. Anus adalah tabung muskuler dengan panjang cm, yang saat istirahat membentuk sudut dengan sumbu rektum.

Pada saat istirahat, sudut anorektal adalah sekitar 90 derajat, saat berkontraksi secara volunter sudut tersebut menjadi lebih kecil, sekitar 70 derajat, dan saat defekasi menjadi lebih tumpul, sekitar derajat. Secara anatomi, sfingter ani terdiri dari dua komponen, yaitu sfingter ani interna, yang terdiri otot polos dan sfingter ani eksterna yang berasal dari otot lurik. Sfingter ani interna, memiliki ketebalan 0,5 cm yang merupakan ekspansi lapisan otot polos sirkuler rektum, dan sfingter ani eksterna dengan ketebalan 0, cm yang merupakan ekspansi dari otot levator ani lurik.

Secara morfologis, kedua sfingter tersebut terpisah dan heterogen. Sfingter ani eksterna akan membantu sfingter ani interna pada saat-saat tertentu yang mendadak; dimana tekanan abdominal meningkat seperti pada batuk, berbangkis dan sebagainya. Akan tetapi bantuan sfingter ani eksterna ini sangat terbatas, karena otot ini akan menjadi lelah dalam waktu 60 menit kemudian.

Kerja sama sfingter ani interna dan eksterna akan membentuk daerah yang secara fisiologi mempunyai daerah dengan tekanan tinggi, sepanjang 4 cm. Otot puborektalis membentuk sudut anorektal dengan sling sekeliling pada posterior dari hubungan antara anus dengan rektum adalah hal yang mungkin berperan penting untuk mengontrol feces yang padat. Kontraksi yang terus menerus dari sfingter ani interna, berperan penting untuk mengontrol feces yang cair.

Bantalan anus yang dapat memberikan sejumlah faktor yang tetap pada tekanan anus menurut aliran darah yang mengalir pada arteriovenusus, berperan penting dalam mengontrol flatus.

Kerjasama antara sfingter anal yang inkoninensia dengan fungsi rektal yang normal dibutuhkan untuk mempertahankan kontinen yang wajar. Dinding rektum mengembung untuk menampung feces selama feces masuk rektum dan ini mengurangi peningkatan tekanan. Pekerjaan ini bersamaan dengan tekanan tinggi daerah sfingter ani berfungsi untuk menampung feces yang padat dan menunda pengeluaran sampai waktu yang tepat.

Suatu kenyataan kontinensia tergantung atas koordinasi dari aktifitas saluran gastrointestinal, dasar panggul dan sfingter ani serta kontrol dari susunan saraf pusat. Kebanyakan waktu kontinensia dipertahankan oleh keadaan dibawah sadar sub consioustetapi kontrol volunter juga mempunyai peranan penting dalam penundaan pengeluran feces selama keadaan tak menyenangkan.

Anatomi Anal Kanal dan Rektum 8 Gambar 1. Anatomi dari anal kanal dan rektum menunjukkan mekanisme fisiologis penting bagi kontinensia serta defekasi. Anus normalnya tertutup karena aktivitas tonik dari sfingter ani interna dan barier tersebut diperkuat oleh sfingter ani eksterna saat berkontraksi secara akvi. Lipatan mukosa anal bersama dengan bantalan vaskular anal anal cushions memperkuat penutupan dari anus.